Cerita Gadis Kecil Bernama Natalia

Namanya Natalia,. Umurnya belum genap 13 tahun, duduk dikelas satu SMP N 1 Malaka Timur, jangan berpikir karena ada angka dibelakang hurup N maka ada smp 2 3 dan seterusnya.. karena memang SMP ini adalah satu-satunya. Ada sekitar 600 murid yang menuntut ilmu disini. Kembali ke Natalia, ia adalah sulung dari 2 bersaudara. Adiknya masih balita. Ibunya ibu rumah tangga biasa yang terpaksa harus mengolah lahan kecil yang dia punyai seorang diri karena bapak pergi kemalaysia untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik di banding dengan mengolah tanah kering dikampung. Lokasi sekolah yang jauh dari kampungnya membuat natalia harus tinggal “di asrama” meski lebih tepat disebut barak.. ada 67 orang anak yang tinggal disini, 2 minggu sekali ia pulang kerumah, pulang kerumah berarti ia harus mengepak bahan makanan, dan kayu bakar, kok..? jangan heran karena natalia harus mengolah dan meramu masakannya sendiri. Mencuci bajunya sendiri, disamping tugas wajibnya sebagai seorang Siswa belajar dengan giat.

Cita-citanya yang besar membuat ia punya semangat untuk bersaing dan rela hidup dengan cara seperti ini, saya akui saya tak bisa berkata selain kekaguman yang teramat besar. Masaknya Kok gak pakai kompor?, kompor adalah barang mewah, karena bahan bakar yang ada disini mahal sekali.. jadi masak dengan kayu bakar di tungku sederhana menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Sore itu natalia dan okta tampak terampil mengolah makanan yang akan ia santap malam ini, tangannya yang kidal terampil memainkan pisau memotong halus pepaya yang akan menjadi lauknya malam ini. Nasi sudah matang setengah jam tadi. Kali ini masak untuk 3 orang rekan yang lain. Kalau kita berpikir dengan bumbu apa ia mengolahnya cukup dengan garam, merica, dan sedikit minyak goreng, selesai sudah.. di dapur Ada 8 tungku yang selalu menyala karena memang mereka memasak bergiliran.

Ketika sebagian memasak, maka sebagian akan mencuci, dan sebagian akan menyapu halaman di depan asrama. Sebagian mengisi PR, atau bermain mengisi sedikit waktu terluangnya. Kebetulan pohon mangga dan nangka yang ada di depan rumah seringkali daunnya jatuh berguguran. Dan buat yang sudah masak dan mencuci mereka akan langsung masuk ke dalam ranjang masing-masing sekedar membuka buku pelajaran untuk mengulang pelajaran yang sudah disampaikan kemaren.

Hari ini hari minggu, sore hari seluruh penghuni asrama kumpul. Ketika lampu menyala maka seluruhnya harus masuk kedalam rumah tidak ada lagi yang diluar, boleh diluar resikonya ibu asrama akan mengomel dan tak segan akan memberikan sentilan mesra ketelinga mereka.

Ranjang mereka hanyalah ranjang papan dan Cuma beralaskan selimut tanpa kasur. Dari cerita mbak ani, anak ibu asrama. Hal yang paling berat buat mereka adalah di awal2 masuk asrama tak jarang mereka menangis seharian karena harus berpisah dari ibu dan bapak. Tekad dan keinginan kuat untuk menjadi lebih pintar dan punya akses terhadap pendidikan yang akhirnya membuat mereka pelan-pelan mampu beradaptasi.

Jam 7 – 9 malam adalah jam belajar, tergopoh okta dan natalia menyiapkan bku untuk esok. Murid yang banyak di sekolah mereka membuat mereka harus masuk siang bergantian kelasnya dengan anak kelas 2 dan 3. Buku tambahan, Les, Kursus komputer, Musik. adalah utopia buat mereka. Paling untuk kelas 3 ada sedikit pelajaran tambahan untuk mengantisipasi monster baru UAN.

Mereka hanya belajar dengan mengandalkan buku BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang ada di perpustakaan dan tidak bisa dibawa pulang. Dari catatan –catatan itulah mereka mencoba meniasati biar bisa lolos dari UAN, hanya 72 persen siswa yang bisa lolos UAN, sisanya gagal. Sekolah memberikan kesempatan untuk ambil paket B. Dan ini pun sebagian besar gagal. Ada 6 orang anak asrama tahun lalu yang tertunduk, menangis histeris dan mengubur mimpinya dalam-dalam tersapu gelombang UAN.

Asrama yang sudah berumur 25 tahun ini, pernah menampung hingga seratus orang. Betapa riuhnya suasana yang ada. Terbayang khan anak perempuan berkumpul dalam satu tempat ?  tinggal diasrama adalah sebuah pilihan yang paling rasional. Sekolah masuk jam 7. rumah mereka berjarak berkilo-kilo meter dari  lokasi, jika ada transportasi pasti tidak masalah. Jangankan untuk transportasi untuk makan saja seingkali banyak anak yang harus putus sekolah. Ibu Asrama seringkali menahan perasaannya dalam-dalam ketika melihat anak asramanya harus pulang kerumah ditengah jalan karena kehabisan biaya. Dan si anak harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk bisa melanjutkan sekolah.

Ketika melihat ini semua saya jadi merefleksikan dengan kondisi yang ada dirumah, betapa beruntung setiap orang bisa melanjutkan sekolah dengan lebih mudah, begitu banyak pilihan, begitu banyak kesempatan. Ketika seorang anak masuk kedalam sekolah. Tugas utamanya hanya satu belajar yang rajin dan bertanggung jawab agar menjadi pintar. Tak perlu repot memanggul kayu bakar dari rumah, bahan makanan dan yang lain. Karena semua sudah tersedia. Dan sedihnya tetap ada aja yang harus DO.

Saya sangat kagum dengan persistensinya mereka untuk berani memilih sekolah hidup terpisah dari orang tua. Untuk mencapai sebuah cita mulia, memperoleh apa yang menjadi hak asasi hak dasar mereka sebagai anak, pendidikan. Kalau melihat ini banyak sekali PR yang harus dikerjakan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Agar semua orang punya akses yang sama terhadap pendidikan.

Boas, Malaka timur, Kab belu  - NTT 30-9-2007

Leave a Reply